Makam di Tengah Laut
( Syech Abdullah Mundzakir )
Demak, ada sebuah makam dimana makam tersebut berada di tengah – tengah laut yang mana setiap hari selalu di kunjungi oleh para penziarah , baik dari kalangan masyarakat sekitar, santri, pejabat. Para peziarah itu tak hanya dari masyarakat desa bedono saja tetapi juga banyak dari luar desa di Demak, bahkan ada pula dari luar kota Demak sendiri, seperti dari Tegal, Kudus, Wonosobo, Semarang, Jepara, Bogor, Bandung , bahkan Kalimantan.
Lokasi
makam ini yakni berada di komplek Pantai Morosari atu tepatnya di Dukuh
Tambaksari Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Jawa Tengah. Jika kita
ingin berziarah kesana kita bisa naik parau atau berjalan kaki setapak demi
tapak , jika kita berjalan kaki kita bisa melihat keindahan ciptaan tuhan yang
mana di tengah perjalanan kurang dari 200 m menuju makam kita di suguhi
pemandangan Hutan Mangrove yang begitu indah dan banyak sekali populasi burung
yang tinggal di sana. Kita juga menyusuri jembatan kayu yang menhubungkan
antara daratan dengan makam Mbah Mundzakir ± 100 m.
Keajaiban
lain yang orang banyak untuk berbondong – bondong berziarah kesana adalah
adanya karomah dari Allah SWT, yang mana Makam beliau tak pernah tenggelam karena
adanya air pasang rob. Dulunya komplek makam itu masih banyak yang kelihatan
tetapi tetapi akibat adanya abrasi rob mengakibatkan komplek pemakaman itu
tinggal makam Mbah Mundzakir dan keluarganya yang masih ada. Kata Fauzan yang
masih memiliki garis keturunan dengan Mbah Mundzakir menuturkan : Komplek
pemakaman ini dulunya menyatu dengan daratan dukuh Tambaksari, mulai tahun 1998
Tambaksari tekikis abrasi air laut, tahun 1999 kondisi itu sangat
memprihatinkan, membuat 80 keluarga pindah dan sampai saat ini tinggal lima
keluarga yang masih memiliki hubungan kelurga dengan Mbah Mundzakir, mereka
engan pergi karena mereka bertanggungjawab untuk menjaga makam leluarnya.
Mbah Mundzakir sendiri adalah salah satu
murid kiai Sholeh Darat Semarang, dia
satu angkatan dengan Kiai Thohir yang dimakamkan di desa Sriwulan Sayung Demak,
Kiyai yang di peringari di setiap akhir bulan Dzul Qo'dah oleh warga yaitu
dengan membaca tahlil dan doa secara bersama – sama itu selalu ramai dan khimad
dan penuh pengunjung. Selai itu beliau juga merupakan ulama yang berjuang untuk
kemerdekaan Indonesia di tanah pesisir pantai Sayung dari para pejajah Belanda.
Di
saat berjuang, Mbah Mudzakir tidak kenal pamrih dan lelah, dan kesaktiannya
yang ditakuti belanda karena ketika mau ditangkap mbah Mudzakir selalu lolos dan
menimbulkan korban dari fihak Belanda
Nama asli beliau adalah KH. Andullah Mundzakir , tapi masyarakat sekitar biasa menyebut Mbah Mundzakir beliau juga cukup di kenal di kalangan santri dan ulama. Beliau lahir di Dusun Jago Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen tahun 1869, sekitar tahun 1900 ia menetap di Tambaksari, Bedono serta menikahi Latifah dan Asmanah. Beberapa waktu kemudian dia menikah lagi dengan Murni dan Imronah. Dari empat istrinya Mbah Muzakir dikaruniai 18 anak. Di tempat itu, ia mulai melakukan syiar Islam. Sebuah masjid pun didirikan. Cara penyampaian materi keagamaan yang mudah dicerna membuat banyak santri mengaji kepadanya. Mereka kebanyakan takmir musala serta masjid di Demak dan daerah sekitarnya. Karena itulah, ia sering disebut sebagai pencetak kader kiai. Bahkan semua keturunannya menjadi pemangku masjid dan musala. Selain berdakwah beliau sehari-hari menjadi petani tambak dan juga menguasai ilmu kanuragan. Ia kerap dimintai orang untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kendati demikian, ia tak mengharapkan imbalan dari pertolongannya itu. Tak dimungkiri, keahlian dan keikhalasannya membuat nama Mbah Mudzakir kian dikenal orang. Dan itu amat mendukung upayanya dalam melakukan syiar Islam. Pada 1950 Mbah Muzakir meninggal dunia dalam usia 81 tahun.
Penulis : Muhammad Ahsan Fahmi
lebih lengkapnya,ada narasumber cucu langsung, kh.mubasyar ahnaf(kalisari sayung demak)bin Mbah Salim bin Mbah Mudzakkir. dan sudah ada buku terbit tentang sejarah singkat dan silsillah beliau Mbah Mudzakkir.
BalasHapussedangkan juru kunci itu adalah santri dari putra Mbah Mudzakkir yaitu Mbah Moh Shofwan.tidak ada garis keturunan langsung.kalo istrinya masih keturunan MBAH MUDZAKKIR rujuk ke buku MBAH MUDZAKKIR BIN MBAH IBROHIM. 081575030530.matur suwun.
BalasHapussejarah di atas tentang beliau Mbah Mudzakkir, sama sekali tidak akurat.... demi kejelasan sejarah monggo pinarak ten griyanipun kh. mubasyar.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSaya yakin bahwa artikel tentang Mbah Mudzakir ini akan banyak manfa'atnya.
BalasHapusAmien...
subhanallah.....
BalasHapus